JAKARTA : Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mendorong Santripreneur Indonesia – lembaga yang mewadahi wirausahawan di lingkungan pesantren/alumni pesantren, untuk menggelar pameran atau Expo di luar negeri khususnya ke Uni Eropa. Tujuannya agar wirausahawan di kalangan santri ini bisa naik kelas, sekaligus menyumbangkan devisa bagi negara.

“Pasar Eropa sangat prospektif bagi produk UKM Indonesia semisal kopi, kakao, furniture, karena itu saya dorong Santripreneur Indonesia untuk melakukan pameran disana khususnya di Swiss yang sudah ada kerjasama perjanjian perdagangan dengan Indonesia, juga pasar Turki untuk produk-produk fesyen,” kata Menteri Teten Masduki, usai menerima audiensi Santripreneur Indonesia yang dipimpin KH Ahmad Sugeng Utomo (Gus Ut), di Jakarta, Senin (13/1/2020).

Menanggapi hal tersebut, Gus Ut yang juga Pengasuh Ponpes Darul Ulum Wal Hikam Yogyakarta itu, menyatakan kesanggupannya. ” Insha Allah kita siap dengan tantangan atau dorongan dari Bapak Menkop dan UKM Teten Masduki. Pasar Eropa bukan pasar yang asing bagi kami, karena sudah beberapa kali kami melakukan pameran di Eropa seperti di Milan,” kata Gus Ut yang juga inisiator dan pembina Santripreneur Indonesia.

“Bahkan sebenarnya salah satu tujuan kami menghadap Pak Teten, untuk melaporkan, kami akan menggelar expo di Liverpool Inggris, namun pak Menteri menyarankan kami untuk pameran dulu di Swiss dan Turki karena pasarnya untuk produk UKM Indonesia sangat bagus, ujar Gus Ut.

Ia menambahkan pameran di luar negeri digelar melalui ajang ISB Expo (International Santripreneur’s Business Expo) yang diinisiasi oleh PT. Rumah Entrepreneur Indonesia (REI), salah satu divisi di Santripreneur Indonesia.

Kerjasama Perbankan

Lebih lanjut KH Ahmad Sugeng Utomo menjelaskan pengembangan wirausaha di kalangan santri di pesantren-pesantren di Indonesia dinilai sebagai arus baru ekonomi Indonesia yang potensial.

“Perlu ada gerakan bersama bagi para santri untuk menjadi usahawan atau santripreneur. Hal itu mengingat besarnya potensi gerakan ini untuk memberikan kontribusi pada pembangunan ekonomi bangsa

Seberapa besar potensinya? Gus Ut mengaku, saat ini berapa jumlah santripreneur masih dalam tahap pendataan, karena santripreneur ini sifatnya perorangan, bukan berdasarkan jumlah pesantren.

“Anggota kami tersebar dari sabang sampai Merauke, hampir di setiap kabupaten kota kami ada, bahkan cabang di luar negeri juga cukup banyak seperti Jepang, Eropa maupun Timur Tengah,” kata Gus Ut.

Berbarengan dengan pendataan anggota, pihaknya juga menggandeng salah satu Bank BUMN untuk menerbitkan kartu keanggotaan sekaligus kartu ATM.
“Kalau terdata semua, jumlah santripreneur itu sekitar 3 jutaan,” tambah Gus Ut.

Menurut data Kementerian Agama RI, hingga 2016 jumlah santri di Indonesia mencapai 4.290.626 orang. Apabila sebagian jumlah santri tersebut telah lulus pada 2019, maka jumlah SDM lulusan pesantren menjadi sebuah arus kekuatan ekonomi baru.

Ia menambahkan dengan segala potensi yang dimiliki perlu ada program yang memiliki target untuk peningkatan soft skill SDM santri. “Santri harus mengambil peran dan tanggung jawab dalam bagian perubahan sosial dan penguatan ekonomi masyarakat Indonesia,” pungkasnya.

Jakarta 14 Januari 2020
Humas Kementerian Koperasi dan UKM

LEAVE A REPLY