Bogor – Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki menegaskan bahwa setiap daerah harus memiliki sentra-sentra UMKM, baik sentra produksi maupun pemasaran. “Tidak harus membangun gedung baru, tapi bisa memanfaatkan aset-aset dan gedung-gedung milik pemerintah, BUMN, termasuk yang milik Pemda”, ungkap Teten saat mengunjungi Galeri UMKM Indonesia di Kota Bogor, Jawa Barat, Kamis (12/3).

Bahkan, lanjut Teten, Presiden Jokowi sudah menyampaikan bahwa setiap daerah harus memiliki sentra-sentra UMKM. “Saya kira, masih banyak gedung dan aset milik pemerintah dan Pemda yang bisa dikerjasamakan dan dikolaborasikan dengan swasta atau koperasi. Sehingga, tenant-tenant UMKM dengan budget cukup bisa ikut berjualan”, tandas Menkop.

Teten pun mengapreasiasi kolaborasi antara Koperasi UMKM Mandiri dengan Kementerian Pertanian, dengan menyediakan lahan Galeri UMKM Indonesia di Kota Bogor. Terlihat ada kolaborasi yang baik yang menjadikan lokasi di kawasan Taman Surya Kencana Bogor ini sebagai sentra produk UMKM khas Bogor. “Tempat ini sangat strategis bagi UMKM memasarkan produknya”, imbuh Menkop.

Menkop pun mengajak pihak lain bersama pemerintah dalam menggalakkan kehadiran sentra-sentra UMKM (kuliner, kerajinan, dan sebagainya) di seluruh daerah di Indonesia. “Di saat wabah wirus Corona dan pelambatan ekonomi global, sentra-sentra kuliner dan kerajinan UMKM harus terus kita galakkan”, kata Teten.

Teten mencontohkan di banyak Rest Area jalan tol, kini sudah didominasi produk UMKM. “Saya berharap, pengelola sentra harus juga menjadi inkubator dalam membangun branding, packaging, hingga marketing online, para UMKM”, tegas Menkop.

Teten juga berharap perijinan usaha bagi pelaku UMKM lebih dipermudah. Saat ini, ijin usaha tidak dipersulit, cukup mendaftar untuk mendapat Nomor Induk Berusaha (NIB). “Setiap daerah juga harus memiliki Rumah Produksi Bersama seperti yang ada di Payakumbuh, Sumbar, dalam produksi rendang”, ujar Menkop.

Menkop mengakui, untuk mengembangkan UMKM, pemerintah tidak bisa berjalan sendiri, butuh kolaborasi dengan pihak lain. “Pemerintah hanya menciptakan ekosistemnya. Diantaranya, dengan menyediakan pembiayaan yang mudah dan murah”, ungkap Teten.

Sementara itu, Wakil Walikota Bogor Dedie A Rachim menjelaskan bahwa pihaknya kini tengah bersiap mengantisipasi pindahnya ibukota negara dari Jakarta ke Kalimantan. “Bogor harus menjadi kota tujuan wisata yang solid dan mandiri, tanpa harus bergantung kepada pusat”, ucap Dedie.

Dedie pun menyebutkan bahwa pihaknya tengah getol membangun Badan Kuliner (Bakul) yang menjajakan produk dan kuliner khas Kota Bogor. Saat ini, sudah lebih dari 100 UKM yang terlibat dalam program Bakul tersebut. “Saya berharap, UMKM Kota Bogor terus meningkatkan kualitas produknya, dan menularkan kepada UMKM lainnya”, kata Dedie.

Mikro Beromset Makro

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Koperasi UMKM Mandiri H Mahmud Murod menjelaskan bahwa koperasi yang dipimpinnya dengan jumlah anggota 100 orang lebih, rata-rata berprofesi sebagai wirausaha pemula. “Kami ingin menciptakan dan mengembangkan usaha mikro namun beromset makro, baik di Kota Bogor dan daerah lain di Indonesia”, kata Mahmud.

Bagi dunia UMKM, nama Mahmud bukanlah orang baru. Setelah 27 tahun menekuni karir di perusahan ritel (skala nasional), Mahmud pensiun dan melangkah pada 2016 dengan konsep Mini Mall di stasiun kereta api (mitra PT KAI). Mahmud juga membuka gerai kecil di bandara-bandara dengan brand Superoti.

“Saya tergugah untuk membangun dan membangkitkan UMKM, khususnya di Kota Bogor, yang selama ini pertumbuhannya tidak terlihat”, ulas Mahmud.

Kini, Koperasi UMKM Mandiri sudah memiliki Pusat Wisata Kuliner dan Oleh-Oleh (Galeri UMKM Indonesia) di bilangan Surya Kencana, Bogor, serta Pojok UMKM Indonesia yang ada di stasiun-stasiun kereta api. Seperti di stasiun Medan (Sumut), Sukabumi, Gambir, Depok Baru, Citayam, Pondok Cina, dan lainnya.

Rencananya, lanjut Mahmud, Galeri UMKM Indonesia akan buka lagi di empat titik di Kota Bogor, dengan konsep yang berbeda. Diantaranya, galeri khusus untuk pasar produk kelautan, galeri kerajinan oleh-oleh dan batik, galeri ritel food moderen, serta galeri kopi, teh, susu, coklat, dan rempah-rempah Nusantara. Tak ketinggalan, galeri yang akan memajang aneka mesin-mesin industri olahan makanan untuk UMKM.

Menurut Mahmud, beberapa kendala yang kerap dihadapi UMKM di Bogor adalah sewa tempat yang mahal, kurang modal, dan minim ketrampilan. Semua kendala itu dapat diatasi oleh koperasi. Koperasi yang menyewakan lahan bagi mereka untuk berdagang.

“Setelah tiga bulan dan sudah menghasilkan, koperasi akan memberi mereka pelatihan agar lebih berkembang lagi”, ujar Mahmud seraya menyebutkan bahwa pihaknya ingin mengakomodir para pelaku UMKM dengan segala kendalanya.

Selain di Bogor, Galeri UMKM Indonesia juga akan buka di Garut, Jawa Barat. “Kami sudah survai lokasi di Garut. Dan banyak UMKM disana yang mendukung dan siap bergabung”, tukas Mahmud.

Gagasan lain adalah mendirikan UMKM Mart yang sifatnya nasional, dimana akan menjadi etalase bagi branded-branded lokal milik UMKM. “Untuk itu, kami berharap Menteri Koperasi dan UKM dapat menjembatani kami berkolaborasi dengan kementerian-kementerian lain. Karena, jujur saja, selama ini kami terkendala birokrasi”, tandas Mahmud.

Kolaborasi dengan Kementerian BUMN diharapkan bisa menyediakan lokasi strategis bagi UMKM dan bantuan dana CSR BUMN bagi pengembangan UMKM. Dengan Kementerian Kelautan, diharapkan mendapat dukungan produk hasil laut. Dengan Kemenaker, diharapkan bisa menciptakan banyak tenaga kerja.

Dengan Kementerian Pendidikan, diharapkan Galeri UMKM Indonesia bisa membuka gerai di setiap kampus. “Bahkan, di Galeri UMKM Indonesia ini juga bisa menjadi wadah bagi para mahasiswa untuk menjadi wirausaha pemula”, pungkas Mahmud.

Bogor, 12 Maret 2020
Humas Kementerian Koperasi dan UKM

LEAVE A REPLY