Banjarbaru – Produk yang dihasilkan koperasi diharapkan tidak kalah dengan ritel modern maupun produk pabrikan. Hal itu ditegaskan Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki saat meninjau Koperasi Mitra Idaman Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Sabtu (8/2). Koperasi Mitra Idaman Banjarbaru merupakan koperasi yang sedang tumbuh dan beranggotakan 24 orang ibu-ibu. “Mereka memproduksi aneka produk, mulai dari makanan, minuman, hingga kain”, ucap Teten.

Menurut Teten, produk-produk tersebut sangat potensial untuk dikembangkan dan bisa meningkatkan ekonomi para anggotanya. “Koperasi ini sangat berpotensi untuk dikembangkan dalam skala lebih besar dengan keanggotaan lebih banyak”, tegas Teten.

Menkop Teten pun memberikan kiat agar koperasi itu berkembang pesat. Yaitu, melalui sistem produksi berantai. Selain itu, memanfaatkan pembiayaan perbankan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan sistem mengikuti pertumbuhan usaha.

Teten juga meminta produk yang dihasilkan Koperasi Mitra Idaman Banjarbaru, harus berbasis pada unggulan daerahnya, agar suplai bahan baku lokal tercukupi. “Saya mendorong produk unggulan saat ini harus berbasis value base comodity”, kata Teten.

Apalagi, bagi Teten, Kalimantan sangat kaya dengan buah-buahan, kayu-kayuan dan herbal. Itu bisa menjadi produk unggulan disini. Dimana dalam pengembangan usahanya, dapat bermitra dengan market atau pasarnya. Apalagi dengan adanya platform online Wako yang dapat menghubungkan anggota koperasi dengan 1200 warung di Kalimantan Selatan.

Teten optimis, jika saran tersebut dijalankan, maka akan terhubung dan dapat meningkatkan ekonomi. Sehingga nantinya, tidak kalah dibandingkan ritel modern maupun produk pabrikan.

Sementara itu, Ketua Koperasi Idaman Banjarbaru Alfisah mengatakan bahwa koperasi yang dipimpinnya diharapkan bisa go internasional. Untuk mencapai hal tersebut, dibutuhkan tempat strategis di bandara, promosi yang besar dan pembiayaan tanpa agunan.

Alfisah menambahkan, produk unggulan koperasinya adalah Ampang Idaman. Selain itu ada craft, kain Sasirangan, sirup, krupuk dan teh Bajakah. “Anggota kami memang hanya 24 orang, namun aktif dengan produk yang dihasilkan karena setiap anggota wajib memiliki Ijin Usaha Mikro Kecil (IUMK),” pungkas Alfisah.

Banjarbaru, 8 Februari 2020
Humas Kementerian Koperasi dan UKM

LEAVE A REPLY